Lombok Tengah – Fakultas Pertanian dan Sains, Universitas Al-Azhar Mataram Nusa Tenggara memberikan pelatihan tentang cara bercocok tanam kepada Petani Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, dalam rangka pengabdian bertema Dampak perubahan industri pertanian 4.0 terhadap peningkatan sosial ekonomi petani. Pelatihan dihadiri para kelompok tani dan Sekretaris Desa Bonder, Junaidi, pada Sabtu (12/9).

Junaidi menjelaskan, mayoritas kehidupan masyarakat dari petani sehingga kegiatan yang dilakukan Fakultas Pertanian dan Sains Unizar Mataram sangat berharga bagi Petani dan diharapkan kegiatan pelatihan ini berjalan.

“Terlebih di masa pandemi Covid-19, para petani sangat mengharapkan pendampingan dan pembinaan supaya hasil pertanian masyarakat bisa mensejahterakan petani,” ungkapnya.

Junaidi memaparkan, Desa Bonder terdiri dari 22 dusun, sebanyak 90 persen mata pencaharian masyarakat dari petani. Jumlah kelompok tani sebanyak 28, dan sebanyak 4 Gapoktan. Mereke butuh penyuluhan kalau dilihat dari situasi dan kondisi saat ini.

“Sering kali petani mengalami rugi saat bercocok tanam. Berbagai komoditi pernah dicoba namun tetap gagal, sehingga diharapkan pihak Unizar memberikan ilmu cara bertani supaya berhasil,” pintanya.

Senada dikeluhkan salah seorang anggota kelompok tani yakni Sadirun. Yang menjadi persoalan dalam bertani adalah air, kemudian pupuk cukup sulit di peroleh.

“Kami ingin Kampus Unizar Mataram melakukan pembinaan terhadap petani, mulai dari penanaman hingga menjual hasil pertanian,” ujarnya.

Mendengar hal itu Dekan Fakultas Pertanian dan Sains, Unizar Mataram, Muksin menegaskan bahwa penyuluhan atau pembimbing oleh perguruan tinggi merupakan kewajiban. “Kedatangan kami ini bentuk pengabdian atau penyuluhan, bahkan diwajibkan bagi perguruan tinggi melakukan penyuluhan setiap 6 bulan sekali, jika tidak, maka berpengaruh kepada Dosennya,” kata dia.

Muksin akan komunikasikan soal keinginan petani untuk dilakukan pembinaan. “Saya berharap kegiatan ini tidak berakhir sampai disini,” ujarnya.

Salah seorang Dosen di Fakultas Pertanian dan Sains Unizar Mataram, Herdiana yang juga berasal dari Desa Bonder itu ingin melakukan revolusi industri kata lain, perubahan diberbagai bidang seperti perkembangan ekonomi juga perkembangan teknologi yang ditunjukkan serba mesin.

Herdiana sedikit memaparkan penyebab pertanian sulit berkembang di era modern ini yakni, Sumber Daya Manusia (SDM) Petani yang perlu diberikan pemahaman cara bertani di era modern. Kemudian, kondisi lahan yang terus berkurang, dan teknologi belum sepenuhnya diterima masyarakat, karena belum mengetahui cara mengoperasikannya.

“Kadang petani masih masih berpegang pada cara lama, dan lebih simpel seperti menggunakan pupuk un organik, padahal pupuk organik lebih berkualitas mampu menyuburkan tanaman petani,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor Unizar Mataram , Muh Ansyar menyambut baik keinginan para petani Desa Bonder. “Saat ini kami punya 3 Desa binaan Unizar seperti yakni, Desa Jeringo, Gelangsar dan Mekarsari. Khusus Desa Bonder, kami akan bicarakan dan insya Allah akan kita bina,” paparnya.

Ansyar sedikit memberikan masukan kepada petani Desa Bonder supaya tidak hanya bergantung pada komoditi padi, karen terdapat komoditi lain seperti semangka.

“Biarkan mereka tanam padi, nanti kita beli dari hasil jual semangka. Bisa juga tanam Jagung, buat kerepek Jagung tapi, bikin brand, sehingga kalau ada yang ingin makan kerepek Jagung harus ke Bonder,” tutupnya.

mAn